JAKARTA: Masa depan perekonomian Indonesia kini berada di persimpangan jalan karena kehadiran kecerdasan buatan (AI) secara mendasar mengubah sistem daya saing global.
Laporan terbaru dari perusahaan konsultan manajemen global Kearney, Bagaimana Model Pembangunan Ekonomi Ditulis Ulang oleh Kecerdasan Buatan, menegaskan bahwa model pertumbuhan ekonomi tradisional tidak lagi cukup untuk menjamin kemajuan negara mana pun di masa depan.
Laporan ini menyoroti bahwa variabel-variabel tradisional seperti ketersediaan tenaga kerja murah, insentif investasi, dan infrastruktur fisik saja tidak lagi menjadi faktor penentu utama daya tarik perekonomian suatu negara. Pada gilirannya, AI telah berkembang menjadi kemampuan ekonomi inti yang mampu memberikan kontribusi sebesar US$2,6 triliun hingga US$4,4 triliun setiap tahunnya terhadap perekonomian global di berbagai sektor, mulai dari rekayasa perangkat lunak hingga layanan pelanggan.
Kearney mengidentifikasi delapan realitas baru yang harus diatasi oleh para pemimpin negara agar tetap kompetitif. Salah satu perubahan terpenting adalah hilangnya keunggulan tenaga kerja murah karena otomatisasi mengurangi kebutuhan akan tenaga kerja fisik. Pada saat yang sama, kekuatan komputasi, termasuk akses terhadap chip, listrik, dan infrastruktur cloud, kini menjadi aset strategis nasional yang tidak kalah pentingnya dengan sumber daya alam tradisional.
Aliran modal global mulai mengubah peta perdagangan, dengan fokus pada negara-negara yang mengendalikan input strategis seperti semikonduktor dan talenta AI. Peluang bagi negara-negara berkembang kini muncul di berbagai lapisan rantai nilai AI, sehingga negara-negara sebaiknya tidak hanya fokus pada pengembangan model inti tetapi juga pada sektor pendukung lainnya.
Selain itu, AI berkembang pesat melampaui aplikasi berbasis teks dan merambah dunia fisik melalui robotika dan visi komputer, sehingga menciptakan peningkatan permintaan akan perangkat keras dan energi. Pengetahuan AI juga muncul sebagai salah satu pengganda produktivitas terbesar, karena kemampuan tenaga kerja untuk beradaptasi dengan alur kerja sehari-hari akan menentukan siapa yang mampu memperoleh manfaat ekonomi terbesar.
Persaingan menjadi semakin ketat karena siklus inovasi yang sangat cepat, sementara isu keamanan, etika, dan kedaulatan AI muncul sebagai prioritas strategis bagi pemerintah dalam mengelola infrastruktur digital yang penting.
Bagi Indonesia, tantangan ini sangat mendasar mengingat ketergantungan Indonesia pada sektor manufaktur padat karya dan banyaknya angkatan kerja. Tomo Sato, partner di Kearney, menekankan bahwa pemenang di era ini bukanlah mereka yang menawarkan biaya terendah, melainkan mereka yang mampu membangun ekosistem untuk menciptakan nilai dari AI dalam skala besar.
Peluang terbesar Indonesia terletak pada penguasaan dua pilar strategis: energi bersih yang dapat ditingkatkan skalanya dan literasi AI yang merata di seluruh lapisan masyarakat.
Dengan populasinya yang besar, Indonesia dapat mengubah cakupan demografinya menjadi pendorong inovasi global dengan memberikan keterampilan AI yang tepat, kata Shirley Santoso, Presiden dan CEO Kearney Indonesia.
Ia menekankan bahwa sangat penting bagi setiap organisasi untuk menjembatani kesenjangan antara adopsi teknologi dan kesiapan tenaga kerja. Keberhasilan Indonesia dalam jangka panjang akan sangat bergantung pada kolaborasi erat antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha untuk memperkuat posisinya dalam rantai nilai AI global guna mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Jadikan Servisenta.biz.id sebagai sumber informasi pilihan Anda
(MMI)
(tag untuk terjemahan)Kecerdasan Buatan

