Para ilmuwan memperingatkan bahwa pusat data yang mengorbit mengancam teleskop berbasis darat

Para ilmuwan memperingatkan bahwa pusat data yang mengorbit mengancam teleskop berbasis darat

JAKARTA: Rencana pembangunan pusat data di orbit Bumi kembali membuat para ilmuwan khawatir. Sejumlah peneliti memperingatkan kemungkinan gangguan akibat pusat data orbital.
kutipan ruang angkasaMeningkatnya jumlah satelit yang mengorbit Bumi, termasuk usulan pusat data mengorbit yang terhubung dengan SpaceX milik Elon Musk, berpotensi mengganggu atau bahkan melumpuhkan kemampuan teleskop terbesar di dunia untuk melakukan pengamatan astronomi, kata para peneliti.
Kekhawatiran tersebut muncul setelah para astronom dari European Southern Observatory (ESO) mempublikasikan hasil penelitian mengenai dampak pertumbuhan populasi satelit terhadap kualitas langit malam. Menurut penelitian, jika jumlah satelit aktif melebihi sekitar 100.000 unit, observatorium berbasis darat akan menghadapi tantangan besar karena polusi cahaya dan jalur satelit yang melintasi bidang observasi.

Para peneliti menjelaskan bahwa satelit mempengaruhi pengamatan astronomi melalui dua mekanisme utama. Pertama, permukaan satelit memantulkan sinar matahari sehingga meningkatkan kecerahan langit malam. Kondisi ini membuat pengamatan benda langit yang redup menjadi sulit.
Kedua, satelit meninggalkan guratan atau guratan terang pada gambar yang diambil teleskop. Semakin banyak satelit yang lewat, semakin besar kemungkinan gambar astronomi mengalami gangguan sehingga membuat data ilmiah menjadi kurang akurat atau bahkan tidak dapat digunakan.
Berdasarkan simulasi yang dilakukan tim ESO, peningkatan polusi cahaya juga berdampak langsung pada waktu observasi. Saat langit menjadi lebih cerah, teleskop memerlukan waktu pemaparan yang lebih lama untuk mendapatkan data berkualitas tinggi yang sama.
Akibatnya, biaya operasional meningkat dan jumlah penelitian yang dapat dilakukan berkurang. Perhatian para ilmuwan juga tertuju pada proposal SpaceX untuk membangun jaringan pusat data di orbit Bumi.
Konsep ini bertujuan untuk memanfaatkan satelit sebagai infrastruktur komputasi untuk mendukung kebutuhan cloud dan kecerdasan buatan (AI). Meski desain satelit pusat data dikatakan telah dioptimalkan sehingga pantulan cahayanya lebih kecil dibandingkan satelit tradisional, namun para peneliti yakin dampaknya tetap perlu diperhitungkan jika jumlah satelit yang diluncurkan mencapai skala yang sangat besar.
Proposal yang diusulkan juga mencakup peluang untuk meluncurkan hingga jutaan satelit dalam jangka panjang. Menurut peneliti ESO, memiliki satelit yang dirancang dengan tingkat peredupan sebenarnya dapat mengurangi interferensi individu.
Namun seiring bertambahnya jumlah tersebut, akumulasi polusi cahaya akan terus mempengaruhi kualitas pengamatan astronomi di seluruh dunia. Berbeda dengan polusi cahaya di perkotaan yang masih bisa dihindari dengan membangun observatorium di lokasi terpencil, gangguan dari satelit tidak ada batasnya.
Bahkan teleskop di Gurun Atacama Chile, Antartika, atau daerah terpencil lainnya masih akan terpengaruh karena satelit tersebut mengorbit seluruh permukaan bumi. Para astronom memperkirakan kondisi ini dapat mengurangi efektivitas fasilitas observasi modern, termasuk teleskop sangat besar yang dibangun dengan investasi miliaran dolar.
Teleskop darat masih memiliki keunggulan penting dibandingkan teleskop luar angkasa, terutama dalam hal ukuran cermin, biaya operasional, dan kemampuan melakukan observasi jarak jauh.
Oleh karena itu, hilangnya kualitas langit malam akan berdampak signifikan terhadap perkembangan ilmu astronomi. Selain proyek pusat data orbit, para peneliti juga menyoroti beberapa usulan konstelasi satelit lain yang berpotensi memperburuk kondisi langit malam.
Salah satunya adalah rencana peluncuran puluhan ribu satelit pemantul matahari yang diklaim mampu memberikan penerangan pada wilayah tertentu di Bumi. Menurut simulasi European Southern Observatory, satelit-satelit tersebut sebenarnya berpotensi menciptakan lebih banyak polusi cahaya dibandingkan konstelasi satelit komunikasi biasa.
Atas dasar ini, komunitas astronomi internasional mewajibkan badan pengawas untuk melakukan penilaian komprehensif sebelum menyetujui proyek skala besar di orbit Bumi. Mereka memandang ruang angkasa sebagai sumber daya bersama yang dampaknya dirasakan di seluruh dunia.
Oleh karena itu, keputusan mengenai peluncuran konstelasi antariksa harus mempertimbangkan tidak hanya aspek komersial, tetapi juga kepentingan ilmiah dan lingkungan. Sekadar informasi, saat ini diperkirakan terdapat sekitar 14.000 satelit yang mengorbit Bumi.
Jumlah ini masih jauh di bawah ambang batas yang diperkirakan akan melumpuhkan astronomi berbasis darat. Namun dengan semakin banyaknya usulan konstelasi satelit, para ilmuwan menilai langkah mitigasi dan regulasi harus segera disiapkan agar penelitian astronomi dapat terus dilakukan secara maksimal di masa depan.
Jadikan Servisenta.biz.id sebagai sumber informasi pilihan Anda

(MMI)

(Tag untuk terjemahan)Elon Musk