Kecerdasan Buatan merupakan mesin pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia

Kecerdasan Buatan merupakan mesin pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia

JAKARTA: Perkembangan kecerdasan buatan kini tidak hanya dipandang sebagai tren teknologi, namun juga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang akan mendorong daya saing.
Hal tersebut diungkapkan Muhammad Neel Al-Hammam, Deputi Kreativitas dan Teknologi Digital Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif pada World Artificial Intelligence Expo di Indonesia. Dalam sesi bertajuk “AI-Powered Creative Economy: Membuka Mesin Pertumbuhan Indonesia Berikutnya”, kekuatan Indonesia terletak pada menjadikan AI sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi kreatif di bidang kreativitas.
“AI sudah menjadi bagian dari perekonomian saat ini. Tapi teknologi saja tidak menciptakan nilai, manusialah yang menciptakannya. Makanya Indonesia melihat AI lebih dari sekedar transformasi digital. Ini peluang untuk mentransformasi ekonomi kreatif kita,” kata Neil di Jakarta, Selasa, 7 Juli 2026.

Berdasarkan data BPS, nilai PDB ekonomi kreatif mencapai Rp1.757,87 triliun dengan pertumbuhan 6,86%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11%. Kondisi ini menjadikan ekonomi kreatif sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.
Ia menekankan bahwa “ambisi selanjutnya sudah jelas, yaitu mencapai pertumbuhan ekonomi kreatif lebih dari 8% pada tahun 2029.”
Neil mengatakan, untuk mencapai tujuan tersebut ada tiga kunci penting yaitu peningkatan produktivitas, inovasi, dan daya saing. “Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan tingkat produktivitas dan inovasi baru. Di sinilah kecerdasan buatan menjadi sangat strategis,” ujarnya.
AI mempunyai potensi untuk menciptakan nilai dari seluruh jaringan nilai kreatif, kata Neil. Mulai dari penciptaan kekayaan intelektual (KI) hingga produksi, distribusi, konsumsi, penyelamatan, dan pengembangan inovasi IP tersebut.
“Di setiap tahapan, AI membuat proses kreatif menjadi lebih cerdas, cepat, lebih baik dan tentunya lebih efisien. AI bukan lagi sekedar alat otomatis, tapi juga pengguna strategis ekonomi kreatif. Namun saya yakin AI tidak akan menggantikan kreativitas manusia,” tegasnya.
“Penelitian menemukan bahwa AI mengurangi waktu produksi sekitar 45% pada desain, penulisan, dan produksi, sehingga membantu menghasilkan lebih banyak ide. Sebuah studi juga menemukan bahwa AI kreatif menyelesaikan tugas menulis 40% lebih cepat, sehingga menghasilkan peningkatan kualitas sebesar 15%.

Neil mengatakan penelitian tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan buatan tidak menggantikan manusia, namun teknologi ini meningkatkan kemampuan manusia.
Ia menjelaskan, “Kecerdasan buatan mengotomatiskan pekerjaan kreatif, dan tentu saja manusia memberikan imajinasi. Manusia memberikan imajinasi, AI mempercepat produksi. Manusia menciptakan hal-hal minimal.”
“Untuk mewujudkan hal tersebut tentu ada tantangannya,” lanjut Neil. Mulai dari memastikan transparansi dan mempersiapkan masyarakat untuk pekerjaan baru dan kemampuan baru.
“Ini merupakan tantangan unik bagi Indonesia. Setiap negara menghadapi tantangan ini,” ujarnya.

Jadikan Servisenta.biz.id sebagai sumber informasi pilihan Anda

(sebuah pangkalan)

(tag untuk terjemahan)Ekonomi Kreatif