Kesenjangan talenta dalam keamanan siber harus ditutup untuk meningkatkan efisiensi

Kesenjangan talenta dalam keamanan siber harus ditutup untuk meningkatkan efisiensi

JAKARTA: Keamanan siber kini telah bertransformasi dari persoalan teknis menjadi risiko strategis yang menentukan kelangsungan bisnis. Di tengah meningkatnya ancaman digital, organisasi-organisasi di Indonesia terus menghadapi tantangan serius berupa kesenjangan talenta keamanan siber yang terus berlanjut.
Laporan terbaru Fortinet, Laporan Kesenjangan Keterampilan Keamanan Siber Global 2026, menyoroti bahwa fenomena ini diperburuk oleh pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) yang membawa risiko baru bagi bisnis.
Data dalam laporan ini memberikan gambaran yang sangat mengkhawatirkan mengenai lanskap keamanan Indonesia. Hingga 92% organisasi di negara ini pernah mengalami satu atau lebih insiden pelanggaran keamanan siber dalam 12 bulan terakhir.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah 64% dari mereka mengalami lima serangan atau lebih. Dampak finansial dan operasionalnya signifikan; 62% organisasi melaporkan bahwa biaya pemulihan melebihi $1 juta, dan proses perbaikan memakan waktu lebih dari satu bulan.
Para pemimpin TI di Indonesia mengidentifikasi kurangnya staf terlatih sebagai penyebab utama kerentanan. Sebanyak 76% responden menyebut kurangnya keahlian khusus sebagai alasan di balik serangan yang berhasil menembus pertahanan suatu perusahaan. Ironisnya, di saat organisasi sangat membutuhkan tenaga ahli, tantangannya justru menjadi semakin kompleks seiring dengan semakin meluasnya penggunaan teknologi berbasis AI di lingkungan bisnis.
Meskipun 98% organisasi telah mengadopsi atau menguji solusi keamanan berbasis AI, terdapat kesenjangan pemahaman yang jelas. Banyak pemimpin organisasi merasa bahwa dewan direksi tidak sepenuhnya memahami potensi risiko yang timbul dari penerapan AI secara internal.
Hal ini menciptakan kebutuhan mendesak akan talenta-talenta baru yang mampu melakukan pengawasan dan tata kelola di bidang AI, yang diperkirakan akan terus meningkat dalam tiga tahun ke depan.
Mengingat situasi ini, terdapat perubahan positif dalam pendekatan perusahaan untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Hampir seluruh responden (93%) menyatakan kesediaannya untuk membayar sertifikasi keamanan siber bagi karyawannya, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, organisasi ini mulai secara aktif menerapkan program peningkatan keterampilan dan keterampilan internal, serta memperluas rekrutmen melalui pelatihan internal dan program kemitraan untuk menjangkau kelompok talenta yang kurang terwakili.
Karl Windsor, Chief Information Technology Officer di Fortinet, menekankan bahwa untuk mengatasi tantangan ini memerlukan pendekatan terkoordinasi antara manusia, proses, dan teknologi. “Keamanan siber bukan lagi sekedar masalah teknis, namun telah menjadi risiko strategis,” kata Windsor. “Investasi untuk mengatasi tantangan kekurangan talenta dan risiko AI merupakan faktor penentu dalam menjaga ketahanan bisnis di tengah lanskap ancaman yang semakin kompleks.”
Sebagai bagian dari solusi tersebut, Fortinet terus memperkuat komitmennya melalui Fortinet Training Institute. Dengan menyediakan program pelatihan komprehensif, perusahaan bertujuan untuk melatih satu juta orang mengenai keamanan siber secara global pada tahun ini.
Jadikan Servisenta.biz.id sebagai sumber informasi pilihan Anda

(MMI)

(Tag untuk terjemahan)Keamanan siber