UU Perkawinan Digugat, Ini Alasan Pria Merasa Disalahgunakan dengan Uang
UU Perkawinan Digugat, Ini Alasan Pria Merasa Disalahgunakan dengan Uang

UU Perkawinan Digugat, Ini Alasan Pria Merasa Disalahgunakan dengan Uang

KOMPAS.com – Pasal 34 Undang-Undang 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang mengatur kewajiban suami untuk memberi nafkah digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) oleh Moratua Silaban.

Pemohon menilai undang-undang ini memberikan tanggung jawab kepada laki-laki dan berpotensi menjadi bentuk eksploitasi materil. Namun Mahkamah Konstitusi menolak kasus tersebut.

Dalam putusannya, Mahkamah Konstitusi menegaskan bahwa pembagian tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan bukanlah suatu bentuk diskriminasi, namun merupakan pengelolaan tugas dan tanggung jawab yang tetap menempatkan hak keduanya secara setara.

Baca juga: MK Tegaskan UU Perkawinan Tidak Menghalangi Perempuan untuk Bergabung Mendapatkan Dukungan Keluarga.

Kekuatan nyata

Terlepas dari tuntutan hukum yang ditentukan, situasi keluarga di dunia nyata menghadirkan masalah emosional yang serius.

“Secara teori, permasalahan keuangan dalam keluarga biasanya bukan soal angka atau uang,” ujar Danti Wulan Manunggal, S.Psi., Psikolog, dalam Kompas.com pada Jumat (19/6/2026).

“Biasanya itu pertanda masalah serius (kekuatan), penghargaan (apresiasi), dan rasa aman (keamanan),” ujar psikolog yang telah menangani berbagai kasus terkait hubungan keluarga selama lebih dari 10 tahun.

Mengurus keluarga adalah tanggung jawab yang sah dan mengikat secara hukum.

Namun ikatan penting ini bisa berubah menjadi tekanan emosional yang kuat jika implementasinya tidak diimbangi dengan kecocokan emosional di pihak wanita.

Baca juga: Putusan MK ini menegaskan bahwa UU Perkawinan bukanlah alat untuk menganiaya laki-laki dalam penghidupannya.

Perbandingan pasangan. Manipulasi emosional seringkali tidak disadari dan dapat menimbulkan perasaan bersalah, frustrasi, dan hilangnya kepercayaan dalam hubungan.Freepik/tirachardz Perbandingan pasangan. Manipulasi emosional seringkali tidak disadari dan dapat menimbulkan perasaan bersalah, frustrasi, dan hilangnya kepercayaan dalam hubungan.

Ketika seorang pria merasa dianiaya, dia memberikan dukungan

Ketidakseimbangan antara beban kerja dan dukungan psikologis menimbulkan jarak antar pasangan. Lambat laun sang pria mulai merasa bahwa posisinya dalam keluarga berubah hanya untuk memenuhi kebutuhan daging.

Laki-laki yang memiliki segala kebutuhan ekonomi berisiko merasa perannya dalam perkawinan direduksi ke satu sisi.

“Kurangnya apresiasi membuat laki-laki merasa pekerjaannya hanya sebatas mesin ATM,” kata Danti yang merupakan psikolog di pusat layanan psikologi Ibunda.id.

Situasi ini menjadi lebih buruk ketika Anda lelah mencari hidup dia tidak mendapatkan jawaban yang baik dari pasangannya. Danti menjelaskan, ketika kerja keras seseorang dianggap remeh tanpa adanya bukti emosional, kelelahan mental atau kelelahan.

Pengaruh keadaan ini menyebabkan laki-laki kehilangan motivasi. Mereka merasa lelah karena bekerja keras, namun mereka tidak mendapat tempat bersyukur dalam keluarga.

Baca juga: Aturan 2-2-2, cara sederhana menjaga hangatnya hubungan suami istri

Satu muatan tanpa jaring pengaman

Dalam lingkungan ekonomi yang tidak menentu, menjadi satu-satunya pihak yang menginginkan uang menimbulkan banyak tekanan.


“Stres menjadi seorang penyedia layanan tunggal menimbulkan banyak kecemasan,” kata Danti.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *