​Serangan siber berbasis Kecerdasan Buatan menjadi semakin kompleks. Bagaimana cara perusahaan menghadapinya?

​Serangan siber berbasis Kecerdasan Buatan menjadi semakin kompleks. Bagaimana cara perusahaan menghadapinya?

JAKARTA: Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia keamanan siber kini menghadirkan tantangan baru bagi perusahaan. Di satu sisi, AI membantu mempercepat deteksi dan respons ancaman.
Namun di sisi lain, penjahat dunia maya juga menggunakan teknik yang sama untuk membuat serangan phishing, malware, dan rekayasa sosial menjadi lebih cepat dan sulit dideteksi.
Fenomena ini tidak hanya mendorong organisasi untuk mengadopsi AI, namun juga memastikan integrasi penerapannya dengan sistem keamanan yang ada.

Menurut studi Kaspersky Global 2026, hampir semua organisasi di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, Singapura, dan Vietnam, berencana untuk mengintegrasikan AI ke dalam operasi keamanan siber mereka.
Sementara itu, survei menunjukkan bahwa 43% organisasi percaya bahwa penjahat dunia maya telah memanfaatkan AI untuk meningkatkan efektivitas serangan mereka. Faktanya, 21% responden percaya bahwa peretas kini lebih baik dalam mengadopsi teknologi baru dibandingkan organisasi yang mereka targetkan.

Kecerdasan buatan membuat serangan siber menjadi lebih cepat dan meyakinkan

Penggunaan AI oleh pelaku ancaman tidak lagi sebatas eksperimen. Teknologi ini digunakan untuk mengotomatiskan berbagai tahapan serangan, mulai dari pengintaian target dan pembuatan email phishing hingga pembuatan kode berbahaya yang sulit dikenali oleh sistem keamanan.
Kaspersky mengutip temuan tim penelitinya sebagai contoh kampanye RevengeHotels, yang menargetkan perusahaan hotel di Amerika Latin.
Dalam kampanye tersebut, pelaku menggunakan kode yang dihasilkan AI untuk meningkatkan efektivitas malware dan membuat konten phishing tampak lebih meyakinkan dibandingkan metode sebelumnya.
Menurut Kaspersky, kecerdasan buatan juga mengurangi waktu yang dibutuhkan penyerang untuk melakukan tindakannya. Proses yang sebelumnya memerlukan keahlian teknis dan lebih banyak waktu kini dapat diotomatisasi dengan biaya yang relatif rendah.

Sektor keuangan dan industri hiburan juga menjadi sasaran

Kemampuan AI juga mulai terlihat di berbagai sektor industri. Sepanjang tahun 2025, Kaspersky mencatat lebih dari 530.000 upaya phishing finansial di Asia Tenggara.
Thailand menjadi negara yang mengalami jumlah serangan terbesar, disusul Indonesia dengan 85.908 percobaan serangan, kemudian Malaysia, Vietnam, Singapura, dan Filipina.
Selain sektor keuangan, industri hiburan juga menghadapi tantangan baru berupa penyalahgunaan AI untuk membuat konten deepfake, penipuan konten digital, dan membantu penyerang memetakan infrastruktur untuk mendistribusikan konten dengan lebih cepat.

Bagaimana perusahaan menghadapi ancaman siber berbasis AI

Menurut Kaspersky, penggunaan AI dalam keamanan siber tidak cukup hanya dengan menambahkan fitur berbasis AI ke sistem yang sudah ada. Perusahaan juga perlu memastikan bahwa seluruh data keamanan dapat dihubungkan dalam satu platform sehingga AI memiliki informasi yang cukup untuk mendeteksi ancaman secara akurat.
Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
– Integrasikan data keamanan dari titik akhir, identitas, cloud, dan jaringan ke dalam satu platform terpadu
-Pilih solusi AI yang terintegrasi dengan alur kerja keamanan Anda, bukan hanya menawarkan serangkaian fitur
– Perhatikan biaya integrasi dan total biaya kepemilikan (TCO) sebelum mengadopsi platform AI
– Mengembangkan tata kelola AI sejalan dengan peraturan dan kebijakan perusahaan
-Menerapkan implementasi AI secara bertahap dengan indikator keberhasilan yang terukur

Integrasi lebih penting dari sekedar penambahan fitur AI

Simon Tong, Direktur Jenderal Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara dan Asia Berkembang (AEC), percaya bahwa tantangan utama yang dihadapi perusahaan saat ini bukan lagi apakah akan menggunakan AI, namun bagaimana menerapkan teknologi ini untuk benar-benar meningkatkan efektivitas operasional.
Menurutnya, solusi AI otonom berpotensi menambah kompleksitas jika memerlukan konfigurasi manual yang rumit. Di sisi lain, AI yang terintegrasi langsung ke dalam proses deteksi, investigasi, dan respons lebih efektif dalam membantu tim keamanan menghadapi ancaman yang berkembang lebih cepat.
Dengan semakin banyaknya pelaku ancaman yang memanfaatkan AI untuk mempercepat serangan, perusahaan diperkirakan akan semakin fokus dalam membangun sistem keamanan yang mampu merespons ancaman secara otomatis sekaligus meningkatkan kemampuan analis keamanan dalam mengambil keputusan.
Jadikan Servisenta.biz.id sebagai sumber informasi pilihan Anda

(MMI)