JAKARTA: Upaya modernisasi di sektor publik saat ini menghadapi momentum kritis seiring dengan semakin masifnya integrasi kecerdasan buatan (AI) ke dalam operasional pemerintahan dan lembaga pendidikan.
Mulai dari penentuan kelayakan penerima bantuan sosial hingga sistem deteksi penipuan, kecerdasan buatan telah menjadi kekuatan pendorong baru dalam efisiensi layanan publik.
Namun, gelombang adopsi teknologi pintar ini bukannya tanpa hambatan. Riset tahunan Public Sector Edition of Enterprise Cloud Index (ECI) yang kedelapan dari Nutanix, pemimpin pasar dalam komputasi multi-cloud hybrid, menyoroti kesenjangan besar antara ambisi teknologi dan kesiapan infrastruktur penting di lembaga-lembaga publik.
Kesiapan infrastruktur masih minim
Salah satu temuan paling mengejutkan dari laporan global ini adalah fakta bahwa 73% infrastruktur TI sektor publik saat ini dinilai belum siap menjalankan beban kerja AI yang kompleks di lingkungan lokal.
Mayoritas organisasi masih kesulitan mengelola sistem lokal dan private cloud yang lama secara bersamaan. Proses peralihan ke infrastruktur cloud modern yang beroperasi tanpa dukungan sistem kontrol terintegrasi meningkatkan kompleksitas arsitektur TI yang ada.
Kondisi infrastruktur yang tidak merata ini menciptakan hambatan serius bagi para pemimpin TI untuk memenuhi mandat ganda mereka: meningkatkan prestasi lembaga sekaligus melindungi kedaulatan dan keamanan data publik.
Ancaman nyata dari Shadow AI
Selain permasalahan infrastruktur, tata kelola juga merupakan permasalahan yang sangat mendesak. Adanya arogansi atau silo sektoral dalam organisasi menimbulkan AI yang tersembunyi, yaitu penggunaan aplikasi atau alat AI oleh karyawan secara mandiri tanpa verifikasi dan pengawasan formal dari departemen TI.
Laporan Nutanix mengungkapkan bahwa 91% pemimpin TI di pemerintahan dan lembaga pendidikan setuju bahwa penggunaan AI yang tidak terverifikasi menimbulkan risiko fatal terhadap keamanan data dan keberhasilan misi lembaga.
Dariush Ashgari, CTO dan VP Solutions Engineering di APJ Nutanix, menekankan bahwa fokus utama organisasi di kawasan Asia Pasifik dan Jepang kini telah bergeser dari sekadar bercita-cita untuk mengadopsi AI menjadi kesiapan operasional yang matang.
“Organisasi-organisasi yang berhasil bergerak maju adalah mereka yang tidak lagi mengejar setiap kemampuan AI baru secara terpisah, namun fokus pada penguatan fondasi infrastruktur mereka,” kata Dariush.
Dia menambahkan bahwa arsitektur berbasis kontainer yang aman mewakili hambatan keamanan yang penting untuk menjaga kepercayaan publik seiring dengan semakin terintegrasinya AI ke dalam layanan publik.
Aplikasi berbasis container adalah solusi masa depan
Sebagai langkah untuk memitigasi kompleksitas infrastruktur dan ancaman keamanan, para pemimpin teknologi di sektor publik kini menaruh harapan besar pada teknologi wadah aplikasi.
Teknologi ini diyakini mampu meningkatkan kecepatan, skalabilitas, dan keamanan beban kerja AI mereka. Survei tersebut menunjukkan bahwa 87% pemimpin teknologi sektor publik memperkirakan ketergantungan mereka pada containerisasi akan terus berlanjut dalam tiga tahun ke depan.
ECI Research merupakan studi benchmark global yang dilakukan pada bulan November 2025 oleh Wakefield Research yang melibatkan 1.600 eksekutif cloud, IT, dan teknik dari berbagai negara, seperti Singapura, Jepang, India, Australia, AS, dan Inggris.
Kumpulan data sektor publik ini merangkum suara para pengambil keputusan di pemerintah federal/pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan sekolah dasar/menengah.
Jadikan Servisenta.biz.id sebagai sumber informasi pilihan Anda
(MMI)
(tag untuk terjemahan)nutanix


