⁠Mengapa ada perebutan tempat ketiga di Piala Dunia dan bukan Euro?

⁠Mengapa ada perebutan tempat ketiga di Piala Dunia dan bukan Euro?

Jakarta (Servisenta) – Perebutan perebutan tempat ketiga menjadi tradisi yang selalu ada di Piala Dunia. Meski sering dianggap sebagai pertandingan yang tidak diinginkan bagi tim yang kalah di semifinal, FIFA tetap mencadangkannya hingga edisi 2026.

Sebaliknya, Piala Eropa atau Piala Eropa efektif membatalkan pertandingan ini sejak 1984. Keputusan itu membuat kedua tim yang kalah di babak semifinal langsung menyelesaikan turnamen tanpa harus bersaing memperebutkan tempat ketiga.

Lalu mengapa kebijakan dua liga terbesar di dunia berbeda?

Di Piala Dunia 2026, Prancis dan Inggris harus berebut perebutan tempat ketiga setelah tersingkir di semifinal. Prancis kalah dari Spanyol 0-2, sedangkan Inggris kalah telak dari Argentina 1-2.

Meski bukan laga perebutan piala utama, namun laga ini tetap membawa arti penting, baik dari segi gengsi maupun keuntungan bagi tim pemenang.

Salah satu alasan utama mengapa FIFA mempertahankan pertandingan perebutan tempat ketiga adalah faktor komersial. Setiap tambahan pertandingan Piala Dunia memberikan lebih banyak pendapatan, mulai dari penjualan tiket, hak siar televisi, hingga pendapatan iklan.

Selain itu, pertandingan ini juga menjembatani kesenjangan waktu antara babak semifinal dan final sehingga pihak penyelenggara tetap memiliki pertandingan-pertandingan seru yang bisa dipersembahkan kepada para penggemar di seluruh dunia.

Tak hanya urusan bisnis, perebutan tempat ketiga juga berdampak pada ranking FIFA. Karena berstatus pertandingan resmi, maka hasil pertandingan ini memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan pertandingan uji coba.

Kemenangan dapat membantu negara tersebut memperoleh tambahan poin peringkat FIFA yang nantinya akan berdampak pada posisi unggul dalam undian kompetisi internasional, termasuk Piala Dunia dan kualifikasi UEFA Nations League.

Baca juga: Posisi Ketiga Klasemen Piala Dunia 2026: Prancis Vs Inggris

Laga ini pun dianggap sebagai kesempatan terakhir para pemainnya untuk mengakhiri turnamen dengan hasil positif setelah kecewa karena gagal lolos ke final.

Pemenang pertandingan juga berhak mendapatkan medali perunggu. Meski tidak mendapatkan trofi khusus, tim peringkat ketiga mendapatkan trofi tersendiri serta hadiah uang tunai yang lebih besar.

FIFA memberikan hadiah sebesar US$29 juta kepada tim peringkat ketiga, lebih banyak US$2 juta dibandingkan tim peringkat keempat yang menerima US$27 juta.

Sejarah perebutan tempat ketiga dimulai pada Piala Dunia 1934, yang merupakan edisi kedua turnamen tersebut. Saat itu Jerman mengalahkan Austria 3-2 untuk menempati posisi ketiga.

Pada Piala Dunia edisi pertama tahun 1930, pertandingan ini tidak ada. Amerika kemudian bertekad finis ketiga berdasarkan selisih gol lebih baik dibandingkan Yugoslavia.

Perebutan tempat ketiga kembali digelar pada Piala Dunia 1938. Namun pertandingan ini dibatalkan pada edisi 1950 karena sistem kompetisinya menggunakan sistem grup pada babak final. Sejak Piala Dunia 1954 hingga sekarang, perebutan tempat ketiga selalu menjadi bagian dari turnamen tersebut.

Selain menentukan perebutan tempat final, laga ini juga mencetak sejumlah rekor bersejarah Piala Dunia.

Pada edisi 2002, striker Turki Hakan Sukur mencetak gol ke gawang Korea Selatan hanya dalam waktu 11 detik. Rekor ini tetap menjadi gol tercepat dalam sejarah Piala Dunia.

Sementara itu, striker Prancis Just Fontaine mencetak empat gol saat mengalahkan Jerman Barat 6–3 dalam perebutan tempat ketiga di Piala Dunia 1958. Hasil ini membuat Fontaine menyelesaikan turnamen dengan 13 gol, rekor gol terbanyak yang dicetak oleh satu pemain dalam satu edisi Piala Dunia.

Perebutan tempat ketiga seringkali juga mempengaruhi perebutan Sepatu Emas atau Golden Boot Sepatu emas. Banyak pemain seperti Eusebio (1966), Salvatore “Toto” Schillaci (1990), Davor Suker (1998), dan Thomas Müller (2010) mampu menambah koleksi golnya di laga tersebut sebelum akhirnya menjadi top skorer turnamen tersebut.

Di Piala Dunia 2026, laga Prancis melawan Inggris juga akan menjadi kesempatan terakhir bagi Kylian Mbappe dan Harry Kane untuk menambah jumlah golnya di kompetisi tersebut. Sepatu emas.

Baca juga: Fans Argentina Berharap Messi Tak Pensiun Usai Piala Dunia 2026

Meski sejarahnya panjang, perebutan tempat ketiga masih menuai kritik.

Dalam laporan The Athletic, mantan pelatih Belanda Louis van Gaal pernah mengatakan bahwa pertandingan ini tidak seharusnya dimainkan. Menurutnya, pertandingan tersebut tidak adil karena tim yang tampil luar biasa sepanjang turnamen terancam pulang dengan dua kekalahan beruntun setelah gagal di babak semifinal.

Pendapat senada juga diungkapkan mantan pelatih timnas Inggris Gareth Southgate. Jelang perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2018 melawan Belgia, ia mengatakan bahwa laga tersebut bukanlah laga yang ingin dimainkan oleh tim mana pun.

Legenda Inggris Alan Shearer pun mengkritik adanya pertandingan tersebut. Menurutnya, perebutan posisi ketiga merupakan pertandingan yang tidak perlu karena para pemain hanya ingin cepat menyelesaikan turnamen dan kembali ke klubnya.

Berbeda dengan FIFA, UEFA memilih meniadakan persaingan perebutan tempat ketiga yang dimulai UEFA Euro 1984. Keputusan ini diambil setelah mengevaluasi pelaksanaan sebelumnya.

UEFA menilai pertandingan tersebut kurang menarik perhatian publik, kurang diminati, dan memaksa para pemainnya memainkan pertandingan tambahan setelah merasa lelah dengan padatnya jadwal turnamen.

Sejak saat itu, kedua tim yang kalah di babak semifinal Euro langsung berbagi status semifinal tanpa harus memutuskan siapa yang finis ketiga.

Hingga saat ini, perbedaan tersebut masih menjadi ciri dari dua turnamen sepak bola internasional terbesar tersebut. Piala Dunia menjadikan perebutan tempat ketiga sebagai bagian dari tradisi sekaligus memberi penghargaan kepada tim yang mampu bangkit setelah gagal mencapai final, sedangkan Euro memilih fokus pada perebutan gelar tanpa memperkenalkan pertandingan tambahan yang dianggap sudah tidak relevan lagi.

Baca juga: Donald Trump Akan Hadiri Final Piala Dunia 2026

Baca juga: Malvinas-Argentina, Israel dan Komitmen Non Politik FIFA

Koresponden: Rehan Fadila
Redaktur: Suryanto
Hak Cipta © Antara 2026

Pengambilan konten, crawling, atau pengindeksan AI otomatis pada situs ini dilarang keras tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Antara.