Hanya membutuhkan waktu 4,5 bulan untuk membangun sistem untuk 73 juta pelanggan. Bagaimana?

Hanya membutuhkan waktu 4,5 bulan untuk membangun sistem untuk 73 juta pelanggan. Bagaimana?

JAKARTA: Peningkatan infrastruktur teknologi pasca merger seringkali menjadi prospek yang menakutkan bagi perusahaan-perusahaan besar. XLSmart, entitas hasil merger raksasa telekomunikasi XL Axiata dan Smartfren dan dibentuk pada April 2025, berhasil memigrasikan seluruh arsitektur sistemnya ke Tencent Cloud hanya dalam waktu 4,5 bulan, dengan rekor zero-downtime.
Kesuksesan tersebut diungkapkan secara langsung dalam sesi fireside chat di acara Tencent Cloud Indonesia AI Executive Day di Jakarta. Hadir sebagai keynote speaker adalah Yessie D. Yosetya, CIO XLSmart, serta Poshu Yeung, President Tencent Cloud International.
XLSmart saat ini melayani lebih dari 73 juta pengguna aktif di sektor seluler, broadband rumah, dan layanan digital perusahaan. Mereka menghadapi kenyataan kompleks pasca-merger: harus mengintegrasikan lebih dari 60 aplikasi penting, mengintegrasikan kembali 1.200 layanan mikro, mengelola lebih dari 1.000 API, dan memastikan keamanan 15 terabyte data inti perusahaan.

Yang membuat usaha ini semakin berisiko adalah kenyataan bahwa aplikasi yang dimigrasi merupakan tulang punggung bisnis yang menghasilkan hampir 50% total pendapatan perusahaan dan berhubungan langsung dengan puluhan juta pelanggan.
“Dalam skenario merger, tugas pertama seorang IT adalah melakukan integrasi. Namun bagi kami, ini juga merupakan peluang untuk melakukan modernisasi dan rasionalisasi,” kata Yesi. Ia menekankan bahwa ketika mengevaluasi pemilihan mitra, kemampuan untuk mengeksekusi dengan gangguan minimal terhadap pelanggan adalah metrik yang paling penting.
Di sinilah teknologi kecerdasan buatan (AI) Tencent Cloud berperan penting. Otomatisasi AI mulai bekerja dari fase awal, penemuan, hingga memetakan tampilan penuh dari keseluruhan lanskap sistem yang kompleks. Selain itu, AI digunakan untuk mengkompilasi dokumentasi sistem secara otomatis yang menjadi dasar kerja alat migrasi.
Proses transfer kode perangkat lunak dan navigasi antar database dilakukan dengan lancar dengan bantuan kecerdasan buatan. Terakhir, pada tahap pengujian sebelum sistem masuk ke produksi (lean produksi), AI mengotomatiskan ribuan skenario pengujian regresi yang tidak mungkin dilakukan secara manual dalam waktu singkat.
Penggunaan alat AI berdampak besar pada efisiensi bagi kedua belah pihak. Di pihak Tencent Cloud, aplikasi AI menghemat hingga 60% sumber daya manusia (headcount resource) yang dialokasikan untuk memandu proses migrasi. Sementara bagi XLSmart, proyek raksasa yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun ini telah berhasil mengurangi keseluruhan siklus hidupnya hingga 75% lebih cepat.
Efisiensi kali ini memberikan keuntungan strategis yang signifikan bagi XLSmart. Dengan selesainya integrasi inti, perusahaan kini dapat mengalihkan fokus dan energinya untuk memberikan lebih banyak inovasi baru kepada pelanggan, termasuk melanjutkan proyek migrasi sistem big data dan analitik yang saat ini sedang berjalan dengan Tencent Cloud.
Bushu menegaskan, Indonesia merupakan pasar yang sangat vital bagi Tencent Cloud karena didukung oleh populasi yang besar dan suburnya pertumbuhan unicorn lokal. Tencent Cloud berkomitmen menjadi mitra yang siap membantu melalui pendekatan Forward Deployment Engine, membangun inovasi langsung di lapangan bersama mitra lokal.
Jadikan Servisenta.biz.id sebagai sumber informasi pilihan Anda

(MMI)

(TagsTranslation)Tencent Cloud