Jatuhnya Prancis secara tiba-tiba, fondasi yang kuat bagi Spanyol

Jatuhnya Prancis secara tiba-tiba, fondasi yang kuat bagi Spanyol

Orang Spanyol memainkan bahasa Prancis seperti pemain yang memainkan akordeon, merentangkan instrumennya maju mundur hingga menghasilkan melodi yang indah dan harmonis.

JAKARTA (Servisenta) – Kebenaran yang terungkap dari laga semifinal Piala Dunia 2026 di Stadion Dallas, Rexas, Amerika Serikat, Rabu (15/7) adalah tim mana pun tidak boleh tertinggal 0-2 dari tim kuat seperti Spanyol karena selisih dua gol terlalu besar untuk membuat suatu tim di ambang kekalahan.

Hal inilah yang terjadi pada Prancis yang sebelum laga semifinal memiliki peluang gol lebih tinggi dibandingkan Spanyol, bertabur bintang dan memiliki organisasi permainan yang kuat dan rapi.

Faktor xG Spanyol adalah 12,75, sedangkan Prancis adalah 13,31.

Namun Prancis gagal memanfaatkan faktor tersebut, dan malah Spanyol menang meyakinkan 2-0 berkat gol penalti Mikel Oyarzabal dan umpan Pedro Porro.

Pedro Porro juga kemudian dinobatkan sebagai ‘Pemain Paling Berharga’Pemain pertandingan“Pada laga semifinal pertama Piala Dunia 2026.

Kemenangan atas Prancis tidak hanya memastikan lolos ke final, tetapi juga berdampak tambahan pada peringkat FIFA.

Sebelum pertandingan ini, Spanyol menduduki peringkat kedua di belakang Argentina dalam sistem peringkat FIFA. Namun kini La Roja berada di peringkat pertama.

Menghadapi Spanyol, Prancis yang dilatih Didier Deschamps kehilangan momentum untuk bangkit setelah La Roja berjuang keras di semua lini.

Para pemain Spanyol selalu sigap menutup ruang manuver Prancis begitu melakukan serangan. Mereka langsung merepotkan lawan begitu bola hilang, dan langsung melancarkan serangan begitu menguasai bola yang ironisnya lebih vertikal dari biasanya yang dilakukan Prancis.

Semifinal di Dallas ini juga menjadi penegasan bahwa pertahanan Spanyol sama efektif dan tajamnya dengan lini tengah dan depan mereka.

Spanyol nyaris sempurna dalam segala hal, termasuk kiper Unai Simón, yang, seperti pencetak gol terbanyak Spanyol, berperan penting dalam kemenangan semifinal yang membuat La Roja melaju ke final Piala Dunia kedua mereka, setelah edisi 2010.

Ini akan menjadi peringatan dini bagi Inggris atau Argentina bahwa mengalahkan tim asuhan Luis de la Fuente akan membutuhkan tim yang kuat dan bersatu di segala lini.

Kolektivisme Spanyol tidak hanya harus dilawan dengan kemampuan individu para bintangnya saja, tapi juga dengan tim yang memiliki kekompakan tinggi dan lebih kreatif baik saat menyerang maupun menembus pertahanan Spanyol.

Baca juga: Spanyol Lolos ke Final Usai Kalahkan Prancis 2-0

Baca Juga: Didier Deschamps Akui Prancis Tak Tampil Seperti Biasanya

Hak Cipta © Antara 2026

Pengambilan konten, crawling, atau pengindeksan AI otomatis pada situs ini dilarang keras tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Antara.