JAKARTA: Transformasi digital masih menjadi prioritas banyak perusahaan di Indonesia. Namun, menurut ManageEngine, tantangan terbesar yang dihadapi organisasi saat ini bukan hanya soal memilih teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) atau meningkatkan keamanan siber, namun mengidentifikasi langkah awal yang tepat dalam membangun fondasi infrastruktur teknologi informasi (TI) mereka.
Hanif Bastian, Direktur Teknis ManageEngine Indonesia, mengatakan masih banyak perusahaan yang kebingungan saat mulai menerapkan transformasi digital. Persyaratan ini mempersulit organisasi untuk memilih solusi TI yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Mereka terkadang bingung memilih produk yang mana atau memulainya dari mana,” kata Hanif saat diwawancarai Servisenta.biz.id. “Apalagi jika mereka baru memulai proses transformasi digital.”
Menurut Hanif, langkah pertama yang harus dilakukan perusahaan adalah membangun visibilitas seluruh aset TI. Aset ini tidak hanya mencakup perangkat dan jaringan, tetapi juga akun pengguna, hak akses, dan bahkan kata sandi yang digunakan dalam operasional sehari-hari.
Ia menjelaskan, kemampuan memantau seluruh infrastruktur atau observability secara akurat adalah kunci sebelum perusahaan menambah lapisan keamanan atau mengadopsi teknologi yang lebih kompleks.
“Memiliki visibilitas penuh terhadap infrastruktur dan aset kami adalah kuncinya,” katanya. “Setelah fondasinya kuat, kami akan meningkatkannya lapis demi lapis, mulai dari keamanan siber, firewall, dan sistem deteksi intrusi, dan bahkan menggunakan kecerdasan buatan untuk memfasilitasi manajemen TI.”
Selain membangun landasan TI, Hanif meyakini integrasi antara sistem operasi TI, layanan TI, dan keamanan siber juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.
Menurutnya, salah satu kelebihan pendekatan ini adalah kemampuan sistem dalam merespons gangguan dengan lebih cepat. Misalnya, ketika server mengalami masalah, sistem pemantauan dapat langsung membuat tiket insiden sehingga tim helpdesk dapat segera menanganinya.
“Apabila server down, maka alarm akan langsung dikirimkan ke tiket di Incident Management agar helpdesk dapat segera menindaklanjutinya. Kami berharap downtime tersebut tidak terlalu lama karena dapat berdampak pada kepercayaan bisnis dan pengguna,” jelas Hanif.
Pendekatan serupa juga diterapkan pada aspek keamanan siber. Ia mengatakan, proses deteksi ancaman dapat dipercepat melalui integrasi dengan sistem keamanan sehingga insiden dapat diklasifikasikan, diprioritaskan, dan ditindaklanjuti secara otomatis atau manual sesuai kebutuhan.
AI membantu analisis, tidak menggantikan manusia
Hanif mengatakan AI kini mulai digunakan di banyak solusi ManageEngine, terutama untuk membantu menganalisis jutaan aktivitas yang terjadi di lingkungan IT suatu perusahaan. Menurutnya, kemampuan tersebut sulit diterapkan jika hanya mengandalkan analisis manusia, terutama pada perusahaan yang memiliki ribuan perangkat, aplikasi, dan pengguna.
Dia menambahkan: “Dengan menggunakan kecerdasan buatan, ribuan atau bahkan jutaan peristiwa akan dianalisis, dan kemudian membantu kita mendeteksi ketika ada ancaman.”
Namun Hanif menegaskan, kecerdasan buatan tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran manusia dalam pengambilan keputusan.
Ia yakin AI lebih efektif dalam memberikan analisis awal sehingga tim TI dan pengambil keputusan dapat bekerja lebih cepat dan efisien.
“AI membantu memberikan wawasan awal,” kata Hanif. “Tentu saja, keputusan tetap berada di tangan manusia.”
Hanif juga mengingatkan perusahaan untuk tidak berasumsi bahwa penggunaan teknologi tercanggih secara otomatis dapat menyelesaikan semua masalah keamanan dan operasional TI.
Menurutnya, kesalahan tersebut masih sering terjadi ketika organisasi mulai menerapkan transformasi digital.
Dia menyarankan agar perusahaan melakukan penilaian terhadap keadaan infrastruktur terlebih dahulu, kemudian membangun visibilitas sebelum menambahkan sistem keamanan yang berbeda.
Selain berinvestasi pada teknologi, perusahaan juga perlu meningkatkan kesadaran keamanan siber di kalangan karyawan karena faktor manusia masih menjadi salah satu titik paling rentan terhadap serangan siber.
“Teknologi saja tidak cukup. Dari sisi pengguna juga harus diberikan pemahaman yang cukup kuat agar bisa lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas digital,” kata Hanif.
Di tengah meningkatnya ketergantungan terhadap kecerdasan buatan dan otomatisasi, Hanif memperkirakan pada paruh kedua tahun 2026, perusahaan-perusahaan Indonesia akan semakin fokus pada dua hal secara bersamaan, yaitu peningkatan produktivitas bisnis melalui otomatisasi dan penguatan sistem keamanan siber berbasis kecerdasan buatan. Menurutnya, kedua aspek tersebut berjalan beriringan dengan semakin kompleksnya ancaman digital
Jadikan Servisenta.biz.id sebagai sumber informasi pilihan Anda
(MMI)
(Tag untuk terjemahan) Perusahaan


