Mengapa soket listrik berbeda-beda di setiap negara? Ini adalah pernyataan sejarah dan alasannya

Mengapa soket listrik berbeda-beda di setiap negara? Ini adalah pernyataan sejarah dan alasannya

Jakarta: Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa soket listrik di setiap negara berbeda-beda? Mengapa colokan yang digunakan di Indonesia tidak bisa langsung digunakan di Inggris, Amerika, atau Jepang tanpa adaptor?
Jawabannya bukan karena masing-masing negara ingin menciptakan standarnya sendiri, namun karena sistem ketenagalistrikan dunia telah berkembang secara terpisah selama lebih dari satu abad.
Ketika listrik mulai digunakan secara luas pada akhir abad kesembilan belas hingga awal abad kedua puluh, belum ada standar internasional yang mengatur bentuk colokan, tegangan, atau frekuensi arus. Hasilnya, setiap negara mengembangkan sistem yang dianggap paling sesuai dengan kebutuhan dan teknologi yang tersedia pada saat itu.

Bahkan hingga saat ini, keputusan yang diambil puluhan bahkan ratusan tahun lalu masih berlaku, karena penggantian seluruh infrastruktur ketenagalistrikan nasional akan membutuhkan biaya yang sangat besar.

Standar ketenagalistrikan berkembang sendiri-sendiri di setiap negara

Pada masa awal elektrifikasi, banyak negara membangun jaringan listrik secara mandiri. Perusahaan listrik, produsen peralatan elektronik, dan pemerintah menetapkan standar mereka sendiri tanpa koordinasi global.
Kondisi ini menyebabkan colokan, soket, dan voltase berkembang berbeda. Amerika Serikat misalnya menggunakan sistem 120 volt dengan frekuensi 60 Hz, sedangkan sebagian besar negara Eropa, termasuk Indonesia, menggunakan sistem 220-240 volt dengan frekuensi 50 Hz.
Perbedaan tersebut juga mempengaruhi desain steker agar perangkat yang tidak kompatibel tidak sembarangan tersambung ke sistem kelistrikan yang berbeda.

Faktor keamanan membentuk desain komponen

Selain dipengaruhi oleh sejarah, desain soket juga terus berkembang sesuai standar keselamatan masing-masing negara.
Beberapa negara memilih untuk menambahkan pin grounding untuk mengurangi risiko sengatan listrik. Ada juga yang mengembangkan busi yang mengandung sekring, seperti Tipe G yang digunakan di Inggris.
Sebaliknya, sebagian besar negara di benua Eropa menggunakan colokan dua pin berbentuk bulat seperti Tipe C, Tipe E, atau Tipe F, sedangkan Amerika Serikat dan Jepang terkenal dengan colokan dua pin datar Tipe A dan Tipe B. Masing-masing dirancang mengikuti standar keselamatan dan sistem distribusi kelistrikan yang berlaku di wilayahnya.

Ada lebih dari 15 jenis colokan di dunia

Menurut dokumen International Electrotechnical Commission (IEC), saat ini terdapat lebih dari 15 jenis colokan dan soket yang digunakan di berbagai negara.
Ada yang bentuknya mirip, namun belum tentu cocok satu sama lain. Bahkan ada negara yang menggunakan lebih dari satu jenis steker karena pengaruh sejarah atau sistem kelistrikan yang berangsur-angsur berkembang.
Indonesia sendiri menggunakan Type C dan Type F dengan tegangan sekitar 230V dan frekuensi 50Hz.

Mengapa kita tidak membuatnya seragam?

Pertanyaan ini sering muncul, terutama ketika harus membawa adaptor saat bepergian ke luar negeri.
Secara teori, menciptakan standar global tunggal tampaknya lebih praktis. Namun dalam praktiknya, perubahan ini hampir mustahil karena melibatkan miliaran colokan, kabel instalasi, peralatan elektronik, dan peraturan kelistrikan di seluruh dunia.
Perubahan standar berarti setiap rumah, gedung, pabrik, dan perangkat elektronik harus beradaptasi. Diperkirakan biaya yang dibutuhkan jauh lebih besar dibandingkan manfaat yang diperoleh. Inilah sebabnya sebagian besar negara mempertahankan sistem yang telah digunakan selama beberapa dekade.

Apakah adaptornya cukup?

Banyak orang mengira bahwa konverter dapat menangani semua variasi komponen. Meskipun adaptor hanya mengubah bentuk steker, namun tidak mengatur voltase.
Jika perangkat tidak mendukung rentang tegangan negara tujuan, pengguna tetap memerlukan konverter tegangan atau adaptor agar perangkat dapat digunakan dengan aman. Hal ini sangat penting terutama untuk peralatan elektronik lama yang dirancang untuk beroperasi hanya pada standar voltase tertentu.
Oleh karena itu, sebelum bepergian ke luar negeri, ada baiknya Anda mengecek terlebih dahulu jenis steker dan standar voltase di negara tujuan. Informasi sederhana ini dapat membantu menghindari kerusakan pada perangkat elektronik sekaligus memastikan charger, laptop, atau perlengkapan lainnya dapat digunakan tanpa masalah.
Jadikan Servisenta.biz.id sebagai sumber informasi pilihan Anda

(MMI)

(Tag untuk terjemahan) Teknologi