​Privy mendorong integrasi identitas digital untuk mencegah penipuan tiket konser dan praktik perantara

​Privy mendorong integrasi identitas digital untuk mencegah penipuan tiket konser dan praktik perantara

JAKARTA: Munculnya penipuan tiket konser yang merugikan pembeli menjadi bukti pentingnya penerapan identitas digital terverifikasi dalam ekosistem penjualan tiket.
Menurut Privy, integrasi identitas digital dapat menjadi solusi untuk mengurangi praktik perantara sekaligus mencegah penyalahgunaan identitas saat membeli tiket secara online.
Fenomena penipuan tiket kembali menjadi sorotan setelah muncul sejumlah kasus penjualan tiket konser melalui pihak ketiga yang menimbulkan kerugian finansial berkisar jutaan hingga puluhan juta rupee.

Dalam satu kasus, tiket konser BTS World Tour ARIRANG di Jakarta terjual habis dalam hitungan menit, kemudian muncul kembali di pasar tidak resmi dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Beberapa pembeli akhirnya mendapatkan tiket yang tidak valid karena dijual kepada lebih dari satu orang atau tidak pernah dikirim setelah pembayaran dilakukan.

Identitas digital adalah kesenjangan yang perlu diperkuat

Marshall Pribadi, pendiri dan CEO Privy, mengatakan kasus ini bukan sekedar kasus pidana, tetapi juga menunjukkan bahwa sistem verifikasi identitas di ekosistem tiket masih lemah.
“Saat ini, platform tiket resmi mengharuskan nomor KTP dimasukkan pada saat pembelian. Namun, memasukkan nomor KTP secara manual tidak memverifikasi bahwa orang yang memasukkan itu benar-benar pemilik identitas tersebut,” kata Marshall.
“Sehingga oknum oknum dapat melakukan penimbunan tiket dengan menggunakan identitas pihak ketiga sebagai pintu utama terjadinya penipuan,” imbuhnya.
Dijelaskannya, ketika pembelian tiket dikaitkan dengan identitas digital yang terverifikasi, maka setiap identitas digital hanya dapat digunakan oleh pemilik sah identitas tersebut.
“Jika pembelian tiket digabungkan dengan digital ID yang terverifikasi, maka hanya satu digital ID yang bisa membeli tiket dengan NIK yang sama. Perantara yang mencoba membeli tiket dalam jumlah besar dengan menggunakan identitas orang lain tidak akan bisa lolos proses verifikasi ini,” ujarnya.
Marshall meyakini penerapan ID digital juga membuka peluang bagi penyelenggara konser untuk menerapkan kebijakan yang lebih spesifik.
Misalnya saja pembatasan usia untuk acara tertentu atau pembatasan akomodasi agar tiket benar-benar tersedia untuk target audiens yang dituju.
“Dengan cara ini, penggunaan identitas digital akan mendorong ekosistem tiket yang lebih aman, nyaman, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Sejumlah negara telah mulai mengembangkan sistem serupa

Menurut Privi, banyak negara sudah mulai mengembangkan integrasi identitas digital ke dalam layanan tiket.
Di Korea Selatan, InterparkTriple bekerja sama dengan HYBE dan perusahaan fintech Toss, sedang mengembangkan sistem verifikasi wajah biometrik untuk pembelian tiket. Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap tiket benar-benar terhubung dengan identitas pembeli, dan bukan hanya diverifikasi saat masuk ke lokasi acara.
Sementara itu, Singapura juga menjajaki integrasi Ticketmaster dan Singpass sebagai identitas digital nasional. Namun pendekatan serupa belum diterapkan di Indonesia.
Untuk mendukung implementasi tersebut, Privy menyediakan infrastruktur identitas digital melalui dua layanan, PrivyHub dan Login with Privy.
PrivyHub bertindak sebagai portal layanan terverifikasi yang memungkinkan pengguna mengakses banyak pedagang dari satu aplikasi. Login dengan Privy memungkinkan login dan registrasi untuk aplikasi dan situs mitra menggunakan ID Privy yang diverifikasi dengan persetujuan pengguna.
Marshall menjelaskan, kedua layanan tersebut memungkinkan setiap transaksi tiket dikaitkan langsung dengan identitas yang telah menjalani verifikasi, termasuk pemeriksaan biometrik.
“Apabila pembelian tiket konser atau aktivitas lainnya dikaitkan dengan identitas digital yang terverifikasi, maka perantara tidak dapat lagi melakukan pembelian dalam jumlah besar menggunakan identitas orang lain, dan penjualan tiket ilegal dari pihak ketiga dapat diminimalisir karena identitas masing-masing pihak yang melakukan transaksi dapat dibuktikan,” ujarnya.

Sudah digunakan di berbagai industri

Brivi mengatakan, aplikasi identitas digital telah digunakan di berbagai sektor. Marshall mencontohkan platform investasi emas digital milik Treasury yang mendaftarkan sekitar 16.000 pengguna yang terverifikasi dengan login menggunakan Privy.
Teknologi serupa juga digunakan oleh media Kompas dan Tempo, platform pendidikan Belajarlagi, dan layanan visa digital SPUN untuk mempercepat proses orientasi bagi pengguna terverifikasi.
“Keberhasilan dalam berbagai industri ini memberikan landasan yang kuat bagi industri tiket untuk menciptakan ekosistem tiket yang lebih aman,” kata Marshall.
Selain verifikasi identitas, Privy juga memberikan jaminan sertifikat hingga Rp1 miliar sebagai perlindungan finansial jika terbukti terjadi penyalahgunaan identitas pada e-sertifikat yang diterbitkannya.
“Jaminan ini memberikan perlindungan finansial jika terbukti terjadi kerugian akibat penyalahgunaan identitas pada sertifikat elektronik yang diterbitkan Privy, sehingga setiap transaksi yang melibatkan identitas digital oleh Privy tidak hanya aman, tetapi terjamin,” tutup Marshall.
Jadikan Servisenta.biz.id sebagai sumber informasi pilihan Anda

(MMI)

(tag untuk terjemahan) keamanan siber