Sentuhan kecerdasan dan teknologi buatan di Piala Dunia 2026 tidak bisa dihindari

Sentuhan kecerdasan dan teknologi buatan di Piala Dunia 2026 tidak bisa dihindari

JAKARTA (Servisenta) – Piala Dunia FIFA 2026 resmi dimulai pada 11 Juni dengan upacara pembukaan penuh warna di Stadion Azteca di Mexico City, dan laga pembuka antara tuan rumah Meksiko dan Afrika Selatan (SA).

Bagi banyak pecinta sepak bola di Indonesia, ketertarikan terhadap Piala Dunia ini tidak hanya terfokus pada hasil pertandingan, bintang-bintang di lapangan, atau persaingan antar tim nasional. Kehadiran teknologi digital dan kecerdasan buatan (kecerdasan buatan/AI) dalam penyelenggaraan turnamen juga menjadi bagian dari perbincangan baru mengenai arah sepak bola modern.

Sepak bola telah dikenal selama puluhan tahun sebagai olahraga yang sangat manusiawi. Ini termasuk kecepatan, semangat, keputusan spontan, kesalahan, keberuntungan dan kontroversi.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, teknologi semakin memasuki ruang-ruang yang sebelumnya bergantung sepenuhnya pada pemantauan manusia, mulai dari teknologi garis gawang, video asisten wasit (VAR), pelacakan posisi pemain, dan bahkan analisis data pertandingan.

Pada Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, teknologi akan semakin dipandang sebagai bagian dari wajah baru sepak bola. FIFA menawarkan serangkaian inovasi digital untuk mendukung penyelenggaraan turnamen, meningkatkan pengalaman penonton, membantu analisis pertandingan, dan meningkatkan pengambilan keputusan di lapangan.

Beberapa inovasi yang digunakan antara lain: Teknologi siluman semi-otomatis yang canggih, AI Sepak Bola Pro Untuk analisis sebelum dan sesudah pertandingan, avatar pemain 3D berbasis AI, teknologi bola terhubung, serta sistem pelacakan optik pemain dan bola.

Meski demikian, keputusan akhir pertandingan tetap berada di tangan wasit.

Teknologi ada sebagai alat, bukan pengganti manusia. Di sinilah perdebatan muncul: Apakah teknologi membuat sepak bola lebih adil, atau malah mengurangi spontanitas dan romantisme yang telah lama menjadi daya tarik utama olahraga ini?

Terkait fenomena tersebut, Revan Pradipta (40 tahun), pengamat dan presenter sepak bola mengatakan:tuan rumah) Saluran podcast Olahraga77Ia meyakini kehadiran teknologi dan kecerdasan buatan dalam sepak bola telah menjadi bagian dari perubahan zaman yang sulit dihindari.

“Penetrasi teknologi dan kecerdasan buatan ke dalam sepak bola sudah tidak bisa lagi dihentikan. Penerapan teknologi ini ibarat perubahan yang tak terelakkan,” kata pria yang akrab disapa Pelatih Revan itu kepada Xinhua, Senin (22/6).

Menurut Revan, sepak bola modern tidak lagi lepas dari kebutuhan akan akurasi. Dalam pertandingan tingkat tinggi seperti Piala Dunia, satu keputusan saja bisa mempengaruhi nasib sebuah tim, bahkan menyisakan perdebatan panjang di kalangan penggemar.

Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi untuk membantu memperjelas situasi di lapangan merupakan langkah yang wajar.

“Sepak bola saat ini sangat besar. Dampak dari satu keputusan bisa sangat luas, tidak hanya pada pemain dan pelatih, tapi juga jutaan fans. Oleh karena itu, keinginan untuk mengambil keputusan yang lebih tepat bisa dimaklumi,” ujarnya.

Dunia sepak bola memiliki sejarah panjang dengan keputusan-keputusan kontroversial. Gol “Tangan Tuhan” Diego Maradona ke gawang Inggris di Piala Dunia 1986, atau gol Geoff Hurst di Final Piala Dunia 1966, adalah dua contoh bagaimana sebuah momen bisa terus dibicarakan lintas generasi.

Namun, menurut Revan, memperkecil ruang untuk kesalahan besar bukan berarti sepak bola kehilangan daya tariknya. Ia meyakini romantisme sepak bola tidak hanya lahir dari kontroversi, tetapi juga dari konflik, tekanan psikologis, kualitas permainan, dan kisah kemanusiaan di balik pertandingan.

Memang benar kecerdasan buatan bisa saja menghapus momen-momen ikonik seperti gol Maradona di ‘Tangan Tuhan’ demi keadilan yang didambakan tim-tim seperti Inggris.

Layar besar di stadion menampilkan pesan ulasan VAR untuk memverifikasi gol yang dicetak pemain tim nasional Jerman Jonathan Tah pada pertandingan babak 32 besar antara Jerman dan Paraguay pada Piala Dunia FIFA 2026 di Stadion Boston, AS, pada 29 Juni 2026. (Xinhua/Zhen Yichen).

Hal senada diungkapkan Arnan Parulian Benavsihi, wakil presiden Orangi Indonesia, komunitas penggemar timnas Belanda di Indonesia.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi dalam sepak bola merupakan hal yang positif, apalagi bisa mengurangi keputusan salah yang merugikan salah satu pihak.

Pria berusia 50 tahun yang akrab disapa Arnan ini mengatakan: “Penerapan kecerdasan buatan merupakan hal yang positif, terutama dalam meningkatkan akurasi pengambilan keputusan. Ini krusial dalam sepak bola agar tidak ada pihak yang dirugikan. Berbagai teknologi yang diterapkan sangat maju dan sepak bola harus beradaptasi dengan perkembangan dan kebutuhan zaman.”

Bagi Ornan, sepak bola akan tetap menjadi olahraga yang emosional meski semakin didukung oleh teknologi. Menurutnya, suporter akan tetap merasa gugup saat timnya menyerang, kecewa saat peluang gagal dikonversi menjadi gol, dan berdebat saat suatu keputusan dianggap tidak sesuai ekspektasi.

Ia berkata: “Teknologi bisa membantu wasit, tapi tidak bisa menghapus perasaan fans. Selama masih ada pertandingan, dan selama ada tim yang menang dan kalah, sepak bola akan tetap hidup dengan dramanya.”

Di Indonesia, kontroversi seputar teknologi dalam sepak bola bukanlah hal yang aneh.

Dalam beberapa tahun terakhir, diskusi mengenai teknologi Video Assistant Referee (VAR) dan kualitas kepemimpinan wasit kerap menjadi perbincangan publik sepak bola nasional. Oleh karena itu, Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi tontonan seru, tapi juga menjadi cerminan bagaimana teknologi mengubah standar permainan.

Meski demikian, para pengamat juga menilai pemanfaatan teknologi tidak boleh membuat sepak bola kehilangan sisi kemanusiaannya. Teknologi bisa membantu memperjelas suatu kejadian, namun keberanian dalam mengambil keputusan, kemampuan membaca tempo pertandingan, dan kepekaan terhadap dinamika permainan tetap menjadi bagian penting dari tugas wasit.

Dengan kata lain, masa depan sepak bola tidak mungkin menjadi permainan yang sepenuhnya dikendalikan oleh mesin, melainkan permainan yang menggabungkan intuisi manusia dengan dukungan data dan gambar yang lebih akurat.

Sebuah tampilan imersif yang menampilkan ruang kontrol Video Assistant Referee (VAR) yang direkonstruksi dipajang di pameran ‘Sepak Bola dan Teknologi dari Museum FIFA’ di Science World di Vancouver, British Columbia, Kanada, pada 13 Mei 2026. Pameran yang dipersembahkan oleh Museum FIFA ini memulai debutnya di Amerika Utara menjelang Piala Dunia FIFA 2026 di Vancouver, menyoroti peran teknologi dan inovasi dalam sepak bola modern. Pameran ini akan dibuka untuk umum pada 15 Mei 2026 dan berlanjut hingga 7 September 2026. (Xinhua/Liang Sen)

Kehadiran kecerdasan buatan dan teknologi digital di Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa sepak bola sedang memasuki babak baru.

Di satu sisi, olahraga dituntut lebih adil, transparan, dan akurat. Di sisi lain, sepak bola masih belum mempertahankan unsur spontanitas, emosi, dan kisah kemanusiaan yang menjadikannya dicintai miliaran orang.

Bagi para pengamat di Indonesia, perubahan ini tidak boleh dianggap sebagai ancaman, selama teknologi tetap berada pada posisinya sebagai alat.

Sepak bola akan terus berubah seiring berjalannya waktu, namun daya tarik utamanya tetap sama: pertandingan dengan 11 pemain, ekspektasi para penggemar, tekanan di lapangan, dan momen-momen yang membuat orang-orang terus berbicara lama setelah peluit akhir dibunyikan.

Wartawan: Xinhua
Redaktur: Junaidi Suswanto
Hak Cipta © Antara 2026

Pengambilan konten, crawling, atau pengindeksan AI otomatis pada situs ini dilarang keras tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Antara.