Terdapat biaya tersembunyi, dan perusahaan-perusahaan Indonesia masih menghadapi kelemahan TI di era AI

Terdapat biaya tersembunyi, dan perusahaan-perusahaan Indonesia masih menghadapi kelemahan TI di era AI

JAKARTA: Transformasi digital Indonesia kini memasuki tahap yang semakin matang. Di tengah percepatan investasi dalam AI dan perluasan infrastruktur, muncul tantangan penting yang sering diabaikan: perusahaan memiliki data dalam jumlah besar, namun semakin sulit untuk memahami kondisi sebenarnya dari lingkungan TI mereka secara real-time.
Kondisi ini, yang dikenal sebagai titik buta operasional atau kesenjangan visi, kini menjadi hambatan besar terhadap kecepatan pengambilan keputusan dan kelincahan bisnis.

Kompleksitas menimbulkan kebisingan

Permasalahan utama saat ini bukan lagi pada ketersediaan teknologi, melainkan pada banyaknya data operasional. Sistem yang kompleks menghasilkan ribuan operasi telemetri, log, dan peringatan dari aplikasi dan server ke jaringan. Tanpa konteks yang jelas, tumpukan informasi ini berubah menjadi noise atau kebisingan yang menyulitkan tim IT untuk membuat prioritas.
Akibatnya, timbullah apa yang disebut dengan kelambatan pengambilan keputusan (decision lag) – jeda waktu yang sangat lama antara terjadinya suatu insiden hingga organisasi memahami akar permasalahannya. Dalam ekosistem bisnis digital yang serba cepat, penundaan tersebut berdampak langsung pada penurunan kualitas layanan, hilangnya pendapatan, bahkan terkikisnya kepercayaan pelanggan.

AI versus realitas operasional kesiapan AI

Indonesia telah mencatat pertumbuhan yang sangat pesat dalam adopsi AI. Data menunjukkan bahwa 66% perusahaan di negara ini telah berinvestasi atau berencana mengadopsi teknologi agen AI.

Namun, terdapat kesenjangan antara ambisi dan kesiapan operasional. Meskipun 69% karyawan menggunakan AI pada tahun lalu, hanya 16% yang menggunakannya setiap hari, hal ini menunjukkan bahwa banyak organisasi masih dalam tahap eksplorasi.
AI memerlukan data yang bersih dan terintegrasi yang tersedia secara real-time untuk memberikan hasil yang optimal. Sayangnya, data yang masih tersebar di berbagai sistem (silo) membuat AI berpotensi menghasilkan wawasan yang tidak akurat. Sementara itu, risiko siber terus membayangi, dan 68% pemimpin bisnis di Indonesia kini menempatkan keamanan siber sebagai tiga prioritas utama mereka.

Ubah sinyal menjadi tindakan

Dalam menghadapi tantangan ini, organisasi beralih ke metode seperti AIOps untuk menghubungkan data operasional dan secara otomatis mengenali pola insiden. Tujuannya untuk mempercepat proses kejelasan sehingga keputusan dapat diambil dengan cepat, bukan sekadar menambah volume data.
Hanif Bastian, Direktur Teknis ManageEngine Indonesia, menegaskan tantangan terbesar di bidang ini bukanlah kompleksitas teknologi itu sendiri, melainkan kurangnya visi yang komprehensif. “Seringkali, ketika solusi terhadap suatu permasalahan ditemukan, dampaknya sudah menyebar,” kata Hanif. “Mengurangi latensi pengambilan keputusan sangat penting ketika perusahaan mengandalkan AI.”

Peran platform terintegrasi

Di era baru ini, teknologi informasi bukan lagi sekadar alat pendukung, melainkan mesin pengambil keputusan. Platform seperti ManageEngine hadir untuk membantu bisnis mendapatkan visibilitas lengkap dengan menghubungkan data dari titik akhir, jaringan, dan lapisan keamanan ke dalam satu ekosistem.
Dengan AI yang membantu mengidentifikasi hubungan antar insiden, tim TI tidak lagi terjebak dalam memilah-milah ribuan peringatan manual dan dapat lebih fokus pada inovasi strategis.
Keberhasilan transformasi digital Indonesia di masa depan tidak akan diukur dari jumlah teknologi yang dibeli, namun dari kemampuan perusahaan dalam mengubah sinyal menjadi tindakan yang tepat dan cepat. Visi TI yang kuat kini menjadi landasan utama bagi perusahaan yang ingin mempertahankan keunggulan kompetitif di masa depan.
Jadikan Servisenta.biz.id sebagai sumber informasi pilihan Anda

(MMI)

(Tag untuk terjemahan) Kecerdasan Buatan