TikTok mempromosikan literasi AI dan menawarkan pusat pendidikan untuk mempelajari konten yang dihasilkan AI

TikTok mempromosikan literasi AI dan menawarkan pusat pendidikan untuk mempelajari konten yang dihasilkan AI

JAKARTA: TikTok memperluas upayanya untuk mengatasi maraknya konten berbasis kecerdasan buatan (AI) dengan meluncurkan pusat pendidikan (in-app hub) yang membantu pengguna mempelajari, memahami, dan menggunakan konten AI dengan lebih bertanggung jawab.
Fitur baru ini diperkenalkan pada konferensi media yang dihadiri oleh Tom C. Varghese, Pemimpin AI Kebijakan Publik Global di TikTok.
Melalui pusat pembelajaran ini, pengguna dapat mempelajari berbagai keterampilan praktis, mulai dari cara mengenali konten AI, memahami cara TikTok mendeteksi konten yang dihasilkan AI, hingga mempelajari pentingnya mengklasifikasikan video yang dibuat menggunakan teknologi AI.

Pusat pembelajaran ini sudah tersedia untuk pengguna di Malaysia dan dijadwalkan diluncurkan secara global pada Agustus 2026.

TikTok ingin penggunanya lebih memahami konten AI

TikTok mengapresiasi perkembangan AI yang membuka peluang besar bagi kreativitas digital. Namun di sisi lain, teknologi ini juga berpotensi disalahgunakan hingga menghasilkan konten yang menyesatkan atau tidak diinginkan jika tidak dibarengi dengan transparansi.
Oleh karena itu, perusahaan memilih untuk meningkatkan pengetahuan AI sebagai salah satu langkah utama.
“Kami percaya setiap orang perlu memahami konteks dan merasa percaya diri serta mengendalikan pengalaman mereka dengan AI di TikTok,” kata Tom.
“Kami terus berinvestasi dalam teknologi, kemitraan, dan materi pendidikan yang membantu orang-orang mempelajari konten yang dihasilkan AI, memahami cara pembuatannya, dan menggunakan alat-alat ini secara kreatif dan bertanggung jawab,” katanya.
TikTok menjelaskan materi pendidikan tersebut dikembangkan bersama sejumlah mitra, antara lain National Association for Media Literacy Education (NAMLE) dan pakar kecerdasan buatan generatif Henry Agder.
Selain pedoman penggunaan AI yang bertanggung jawab, pengguna juga dapat belajar langsung dari pembuat dan organisasi yang memproduksi konten pendidikan tentang AI di aplikasi.

TikTok telah memberi label pada lebih dari 3 miliar video dengan teknologi AI

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi, TikTok mengungkapkan bahwa hingga saat ini platform tersebut telah memberi label pada lebih dari tiga miliar video yang diidentifikasi sebagai konten yang dihasilkan kecerdasan buatan (AIGC).
Pemberian tag diterapkan melalui kombinasi teknologi kredensial konten dari Alliance for Content Provenance and Authenticity (C2PA), fitur penandaan pembuat konten, dan teknologi watermarking tak kasat mata yang dikembangkan oleh TikTok.
Perusahaan juga mengumumkan telah bergabung sebagai anggota dewan C2PA, sebuah organisasi yang mengembangkan standar industri untuk meningkatkan transparansi konten digital berbasis AI.

TikTok sedang mempersiapkan sistem penindasan spam baru berdasarkan kecerdasan buatan

Selain mengedepankan edukasi, TikTok juga akan meningkatkan sistem deteksinya untuk menangani penyalahgunaan AI yang menghasilkan konten spam dalam jumlah besar.
Menurut TikTok, fenomena tersebut berpotensi membuat pengguna semakin sulit menemukan karya pencipta aslinya.
Dalam beberapa minggu mendatang, perusahaan akan mulai menguji sistem deteksi baru yang dirancang untuk mengidentifikasi akun yang menyebarkan spam berbasis AI, terutama pada topik yang dianggap sensitif.
Kategori ini mencakup politik, peristiwa terkini, informasi keuangan, kesehatan, dan sejarah.
Sepanjang kuartal pertama tahun 2026, TikTok mengklaim telah menghapus lebih dari 86 juta akun palsu sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan platform.

Dana Literasi AI TikTok ditambahkan

TikTok juga meningkatkan investasi dalam program AI Literacy Fund yang pertama kali diperkenalkan pada November 2025.
Pendanaan program tersebut kini meningkat dari US$2 juta atau sekitar Rp36,1 miliar menjadi lebih dari US$4 juta atau sekitar Rp72,2 miliar. Dana tersebut digunakan untuk mendukung organisasi dan pakar AI dalam memproduksi konten pendidikan yang kemudian didistribusikan melalui halaman For You.
Menurut Tom, sejak program ini dimulai, konten edukasi dari berbagai mitra telah mendapat lebih dari 200 juta tayangan.
“Literasi AI tidak bisa terbatas pada dokumen kebijakan, forum diskusi, atau laporan teknis. Semua ini penting, namun masyarakat juga membutuhkan informasi di mana mereka benar-benar berinteraksi dengan konten yang dihasilkan AI,” kata Tom.
Ia percaya bahwa pendidikan AI harus hadir langsung di platform yang digunakan masyarakat sehari-hari sehingga pengguna dapat memahami cara mempelajari dan menggunakan teknologi AI dengan lebih aman dan bertanggung jawab.
Melalui kombinasi pendidikan, teknologi penandaan, peningkatan sistem deteksi, dan kolaborasi dengan organisasi independen, TikTok berharap dapat menciptakan ekosistem AI yang lebih transparan sekaligus menjaga keseimbangan antara inovasi dan keamanan pengguna.
Jadikan Servisenta.biz.id sebagai sumber informasi pilihan Anda

(MMI)

(tag untuk terjemahan)media sosial