Ancaman siber berbasis AI sedang meningkat, dan terdapat tiga tantangan di Asia Tenggara

Ancaman siber berbasis AI sedang meningkat, dan terdapat tiga tantangan di Asia Tenggara

JAKARTA: Lanskap keamanan siber di kawasan Asia Tenggara sedang mengalami perubahan dramatis akibat meningkatnya ancaman yang didukung oleh kecerdasan buatan (AI) dan serangan ancaman persisten tingkat lanjut (APT).
Berdasarkan data terbaru dari Kaspersky, para pakar keamanan berhasil mencegah lebih dari 18 juta serangan siber berbahaya yang menargetkan bisnis di Asia Tenggara sepanjang tahun 2025. Indonesia sendiri menempati peringkat ketiga di kawasan ini dengan lebih dari 3 juta deteksi serangan.
Menanggapi situasi kritis ini, Kaspersky merangkum tiga tantangan utama yang saat ini saling berhubungan dan menghantui ketahanan operasional berbagai organisasi di Asia Tenggara:

1. Peningkatan ukuran dan kecepatan serangan
Penjahat dunia maya kini bergerak lebih cepat dalam mencuri data, sehingga mengurangi waktu respons tim keamanan. Kelompok ancaman persisten tingkat lanjut (APT) terorganisir yang didukung oleh negara atau infrastruktur kriminal terbukti menyumbang 23% dari seluruh insiden fatal pada tahun 2025.
Contoh nyata dari hal ini adalah kampanye APT “Misteri Gajah” yang secara khusus menargetkan aktor-aktor pemerintah di kawasan Asia-Pasifik.

2. Ancaman AI di tengah krisis talenta
Memanfaatkan kode berbasis AI memungkinkan penyerang mengotomatiskan pengintaian dan meluncurkan operasi phishing yang lebih meyakinkan.
Situasi ini diperburuk oleh krisis tenaga kerja siber global. 41% profesional keamanan informasi melaporkan bahwa organisasi mereka kekurangan staf. Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan perlu mengintegrasikan otomatisasi AI langsung ke dalam alur kerja untuk meringankan beban kognitif para analis.

3. Fragmentasi alat keamanan, yang mengganggu visibilitas
Banyak organisasi menggunakan lusinan solusi keamanan independen dari vendor berbeda secara terpisah.
Menurut Simon Tong, Managing Director ASEAN di Kaspersky, akumulasi alat yang terfragmentasi ini menyebabkan analis menghabiskan banyak waktu untuk melakukan korelasi data manual dan menyebabkan kelelahan kewaspadaan.
Selain itu, kompleksitas proses integrasi akan melipatgandakan total biaya investasi awal sebanyak tiga hingga lima kali lipat.
Untuk mengatasi tantangan kompleks ini secara holistik, kami mendesak organisasi-organisasi untuk segera beralih dari perlindungan reaktif ke strategi pertahanan berbasis intelijen dan menyatukan platform terintegrasi.
Jadikan Servisenta.biz.id sebagai sumber informasi pilihan Anda

(MMI)