Beijing (Servisenta) – Amerika Serikat telah lama memperlakukan aturan-aturan internasional sebagai sebuah pilihan, bukan mengikat, mematuhinya ketika berguna, namun mengabaikannya ketika dianggap tidak sesuai dengan kepentingannya.
Upaya Presiden AS Donald Trump baru-baru ini untuk mempengaruhi acara olahraga internasional adalah contoh sempurna dari perilaku standar ganda ini.
Peristiwa itu sendiri tidak sepenting alasan yang melatarbelakanginya. Peraturan memperoleh legitimasi melalui konsistensi dan netralitas, bukan melalui pengaruh pihak-pihak yang mencari pengecualian.
Ketika keputusan mulai ditentukan oleh tekanan politik dan bukan oleh prosedur yang ditetapkan, maka kepercayaan terhadap sistem secara keseluruhan mulai terkikis.
Gaya ini jauh melampaui dunia olahraga. Amerika Serikat telah lama mengklaim sebagai pelindung “tatanan internasional yang berdasarkan aturan”, namun catatan Amerika menunjukkan adanya standar ganda yang mencolok.
Negara secara agresif memberlakukan aturan-aturan yang menguntungkan kepentingannya, namun menuntut pengecualian, perubahan ketentuan, atau bahkan pengabaian sistem ketika aturan-aturan tersebut menjadi beban bagi kepentingannya.

Dengan melumpuhkan mekanisme penyelesaian sengketa WTO dan menuduh pihak lain melakukan pelanggaran perdagangan, serta menerapkan tarif unilateral dan sanksi ekstrateritorial di luar kerangka multilateral, Washington telah berulang kali menunjukkan bahwa peraturan diterapkan secara selektif, bukan secara universal.
Tatanan global tidak dapat bertahan jika negara-negara kuat merasa mempunyai hak untuk melanggar atau mengabaikan peraturan sesuka mereka. Kredibilitas sistem ini tidak bergantung pada pengaruh anggota-anggotanya yang paling berkuasa, namun pada penerapan prinsip-prinsipnya yang tidak memihak kepada semua pihak.
Aturan tidak ada artinya kecuali diterapkan secara adil. Ketika pengecualian menjadi hak istimewa bagi aktor dominan, kerangka kerja tersebut tidak lagi berfungsi sebagai sistem berbasis aturan, namun kembali menjadi sistem yang ditentukan oleh kekuasaan semata.
Wartawan: Xinhua
Redaktur: Junaidi Suswanto
Hak Cipta © Antara 2026
Pengambilan konten, crawling, atau pengindeksan AI otomatis pada situs ini dilarang keras tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Antara.


