Di sisi lain, tim-tim yang beranggotakan pemain-pemain yang terbiasa bermain di kompetisi tinggi, yang mungkin berarti familiar dengan kompetisi Eropa, adalah tim-tim tersukses di Piala Dunia.
JAKARTA (Servisenta) – Piala Dunia 2026 telah usai. Spanyol menjuarai turnamen ini dengan sempurna, bukan hanya karena dominasi penuhnya, tapi juga karena gaya bermainnya yang indah dan matang serta konsistensinya dalam memainkan sepak bola bersih dan menyerang.
Mereka mengulangi kesuksesan mereka pada tahun 2010 ketika mereka memenangkan Piala Dunia untuk pertama kalinya, dengan tim yang sebagian besar terdiri dari pemain muda.
Jika mereka berhasil pada tahun 2010 dengan tim yang rata-rata berusia 24,5 tahun, maka tahun ini mereka berhasil dengan tim yang rata-rata berusia 26 tahun.
Namun ada sedikit perbedaan. Sepuluh tahun lalu, Spanyol tidak menghasilkan pemain berusia di bawah 21 tahun. Kini mereka mendatangkan dua orang, Lamine Yamal dan Bao Kuparsi, yang keduanya berusia 19 tahun.
Yamal juga mewakili keberagaman dan inklusivitas di Spanyol, yang semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Jika tim juara Piala Dunia 2010 hampir seluruhnya terdiri dari pemain berkulit putih, maka tim Piala Dunia 2026 nampaknya memiliki komposisi yang lebih beragam, diisi pemain dari berbagai latar belakang etnis, termasuk pemain diaspora.
Yamal, yang ayahnya orang Mesir dan orang tuanya berasal dari Guinea Ekuatorial, dan Neco Williams, yang orang tuanya orang Ghana, merupakan generasi kedua pemain Spanyol berkulit hitam yang tampil di final Piala Dunia setelah Ansu Fati, Alejandro Balde dan Williams sendiri.
Sementara itu, Aymeric Laporte bergabung dengan tim sebagai anggota diaspora yang lahir dan besar di Prancis.
Ketiga pemain yang berjasa menyukseskan Piala Dunia 2026 dan Euro 2024 mewakili Spanyol baru yang lebih inklusif.
Dalam beberapa tahun terakhir, Spanyol telah menjadi salah satu negara paling progresif di Eropa, berkat reformasi hukum yang menyeluruh, aksesibilitas yang kuat, dan kampanye penerimaan sosial, yang semuanya berhasil mengikis hambatan sosial dalam masyarakatnya.
Berbeda dengan sejumlah negara Eropa yang cenderung xenofobia dan eksklusif, Spanyol semakin merangkul semua warna sosial.
Oleh karena itu, keberhasilan Spanyol dapat dilihat sebagai imbalan atas sikapnya yang lebih terbuka terhadap keberagaman. Sikap itulah yang nyatanya menegaskan gagasan Piala Dunia yang inklusif, seperti yang kerap diusung FIFA dan Gianni Infantino.
Kesuksesan tersebut mereka raih setelah mengalahkan tim yang belakangan dikaitkan dengan kecenderungan rasis.
Yamal, Williams dan Laporte juga merupakan simbol konsep kewarganegaraan yang lebih progresif, fleksibel dan inklusif.
Baca juga: Perayaan kemenangan Spanyol diwarnai penangkapan sejumlah orang
Baca Juga: Boro Wujudkan Impian Kakeknya Saat Spanyol Juara Piala Dunia 2026
Hak Cipta © Antara 2026
Pengambilan konten, crawling, atau pengindeksan AI otomatis pada situs ini dilarang keras tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Antara.


